| Pawai ogoh-ogoh di Desa Suli Kec Balinggi Kab Parimo Kota Palu |
Om swastiastu . . .
Hari raya nyepi adalah peringatan tahun baru saka bagi umat hindu. Konon penetapan tahun baru saka ini memiliki sejarah yang panjang. Singkat cerita, dahulu India dan sekitarnya kerap mengalami krisis dan konflik antar suku (Saka, Pahiava, Yueh Chi, Yavana dan Malaya). Perebutan kekuasaan antar suku ini mengakibatkan kehidupan beragama terombang-ambing.
Akibatnya kehidupan beragama menjadi beragam. Keberagaman ini disebabkan oleh kepengikutan umat terhadap suatu kelompok suku bangsa yang berbeda dan adanya penafsiran yang berbeda atas ajaran yang mereka yakini.
Setelah melalui pertikaian yang panjang akhirnya suku saka pun tampil sebagai pemenang dibawah pimpinan Raja Kaniskha I yang dinobatkan menjadi Raja dan turunan Saka pada tanggal 1 (satu hari sesudah tilem) bulan 1 (caitramasa) tahun 01 Saka, pada bulan Maret tahun 78 masehi. Meskipun tampil sebagai pemenang dalam pertikaian, Raja Kaniskha I dikenal sebagai raja pemersatu suku yang saat itu tengah bertikai dan upayanya dinilai berhasil.
Sejak 78 tahun masehi itulah ditetapkan adanya perhitungan tahun saka. Sejak itu pula kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama di India ditata ulang. Olehnya peringatan tahun baru saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.
Peringatan tahun saka di Indonesia dilakukan dengan cara Nyepi selama 24 jam dan ada beberapa ritual adat yang dilakukan oleh umat hindu, yaitu:
a) Upacara melasti
Ditempat tinggal saya, di Desa Sausu Kab Parigi Moutong Kota Palu umat hindu melakukan upacara ini dengan berdoa dipinggiran pantai atau laut. Katanya ritual ini bertujuan untuk menyucikan diri dan alam semesta olehnya dilakukan dipantai atau laut karena dalam Rg Weda II. 35.3 dinyatakan Apam napatam paritasthur apah (Air yang murni baik dan mata air maupun dan laut, mempunyai kekuatan yang menyucikan)
b) Menghaturkan bhakti/pemujaan
Ritual ini akrab dikenal dengan sembahyang sepulang dari melasti (baca ritual nomor 1) ditempat ibadah umat hindu yang dikenal dengan nama pura.
c) Tawur agung/mecaru
Merupakan sembahyang yang dilakukan umat hindu diperempatan. Perempatan menjadi tempat pilihan pun memiliki makna simbolis lho, dimana umat hindu meyakini perempatan sebagai simbol keseimbangan. Yaitu Keseimbangan buana alit, buana agung, keseimbangan Dewa, manusia Bhuta, sekaligus merubah kekuatan bhuta menjadi div/dewa (nyomiang bhuta) yang diharapkan dapat memberi kedamaian, kesejahteraan dan kerahayuan jagat (bhuana agung bhuana alit).
d) Ngerupuk
Ritual ini dilakukan disetiap rumah tangga milik umat hindu tetapi belakangan ngerupuk disertai dengan pawai ogoh-ogoh. Nah, pawai ogoh-ogoh inilah yang banyak diminati oleh masyarakat setempat dikampung saya. Selain karena memiliki nilai seni tersendiri, ogoh-ogoh merupakan boneka rekayasa dengan sifat-sifat buruk sebagaimana yang diyakini umat hindu. Dalam pawai ogoh-ogoh biasanya sejumlah pemuda mengarak ogoh-ogoh dan diiringi bunyi gong. Tampilan ogoh-ogoh antar desa pun berbeda-beda.
e) Nyepi
Ini dia ritual puncaknya, saat nyepi umat hindu tidak diperbolehkan berkeliaran karena harus mawas diri, tidak diperbolehkan menyalakan api dan mengobarkan hawa nafsu, idak melakukan kegiatan kerja jasmani melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap sang pencipta.
Seperti yang telah dipaparkan, hal ini dilakukan selama 24 jam, mulai dari matahari terbit hingga matahari terbit keesokan harinya.
f) Ngambek geni
Jatuh sehari setelah hari raya nyepi dan merupakan “lonceng” hari berakhirnya nyepi. Hari ini dapat dimanfaatkan oleh umat hindu untuk melakukan dharma santi di lingkungan keluarga, warga dekat maupun bangsa. Dharma santi adalah momentum saling meminta maaf dan memaafkan.
Selamat hari raya nyepi
Om santi, santi, santi om . . .
Setiap “gesekan” selalu menghasilkan kualitas baru baik itu progress maupun regress (pertikaian antar suku yang kemudian menghadirkan peringatan hari raya nyepi).
Kalau George Herbert Mead dkk dalam teori interaksionisme simbolik menjelaskan mengenai interaksi antar individu dengan menggunakan simbol-simbol tetapi tulisan ini menerangkan bahwa interaksi simbolik tsb tidak hanya berkaitan dengan simbol dalam interaksi manusia dengan manusia tetapi juga manusia dengan keyakinannya (perempatan sebagai simbol keseimbangan).
Setiap umat manusia memiliki keyakinan yang berbeda-beda, kita adalah saudara meskipun tak sedarah karena kita sama berada dibawah naungan sistem yang menindas, toleransi itu penting.
Terima kasih Merlina Frandez. Saya masih belajar di blog ini, banyak yang harus saya perbaiki.
BalasHapus