![]() |
| ilustrasi tangan bapak dan anak diambil dari Dakwatuna |
Kesulitan ekonomi membuatku tidak bisa merawatmu dengan
baik, Ayah..
Aku ingat saat dirimu meminta dibelikan obat asma..
Dirimu batuk tiap malam..
Dan Aku terbiasa memanggil ‘Pak, Pak, Pak’ saat tak
terdengar batukmu..
Sejak lama Aku takut kehilangan dirimu Ayah..
Jauh sebelum dirimu benar-benar meninggalkan Aku...
Dirimu pernah mengeluh ‘kaki Bapak sakit, kadang panas
skali’..
Aku menanggapinya tertunduk..
Aku menggerutu dalam hati.. ‘apa gunanya Aku yang tidak
mampu membawa Ayahku berobat’
Maafkan Erniyanti yang miskin ini Ayah..
Pilu benar perasaan ini mengenangmu di saat-saat
terakhirmu..
Dirimu memanggilku, memegang tanganku dan menyampaikan pesan
tanpa bicara..
Pilu, Ayah..
Sebisa mungkin akan ku jalankan pesan terakhirmu..
Dirimu akan selalu ada di pikiran dan perasaanku,
selamanya..
I Miss You, Dad..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar